Thursday, July 26, 2012

IRT (Anatomi Organ Reproduksi)


BAB I
ANATOMI ORGAN REPRODUKSI
MATERI DAN METODE
Praktikum Ilmu Reproduksi Ternak dengan materi anatomi organ reproduksi dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 19 April 2012 jam 10.00-12.00 WIB di Laboratorium Ilmu Reproduksi Ternak Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro Semarang.
1.1.      Materi
            Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu organ reproduksi jantan dan betina pada sapi, domba dan babi, nampan untuk tempat preparat organ reproduksi, alat tulis untuk menggambar hasil pengamatan preparat organ.
1.2.      Metode
            Metode yang digunakan dalam praktikum ini yaitu mengamati anatomi organ reproduksi jantan maupun betina pada sapi, domba dan babi. Menggambar anatomi, memberi keterangan, dan menjelaskan fungsi organ reproduksi jantan dan betina pada sapi, domba, dan  babi. Mengamati perbedaan organ reproduksi jantan dan betina pada sapi, domba, dan babi.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil pengamatan praktikum Anatomi Organ Reproduksi diperoleh hasil pengamatan proses sebagai berikut :


 
1.1.   Anatomi Organ Reproduksi Ternak Jantan

1.1.1.  Testes

Testes merupakan organ kelamin jantan yang sangat penting karena memiliki fungsi yaitu menghasilkan sel kelamin jantan (sperma) dan hormon androgen, hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980), yang menyatakan bahwa Fungsi testes ada 2 yaitu menghasilkan sel benih jantan atau spermatozoa dan hormon - hormon jantan atau androgen. Ditambahkan oleh Noviana et al.,(2007) yang menyatakan bahwa Testes merupakan organ kelamin primer pada sistem reproduksi hewan jantan, karena di dalam organ inilah sel-sel kelamin jantan (spermatozoa) dihasilkan.spermatozoa dihasilkan di dalam tubuli seminiferi melalui proses spermatogenesis pada saat hewan mencapai usia pubertas.
1.1.2.  Epididimis

Epididimis merupakan organ reproduksi jantan yang terletak setelah tetes, yang memiliki fungsi, transport, konsentrasi, maturasi, dan penyimpanan sperma. Epididymis memiliki tiga bagian yaitu, caput (kepala), corpus (badan) dan cauda (ekor), hal ini sesuai dengan pendapat Noviana et al., (2007) yang menyatakn bahwa Epididymis berbentuk memanjang dan melekat erat pada testis dan dapat dibagi atas bagian kepala (caput), badan (corpus) dan ekor (cauda). Caput epididymis membentuk suatu dasar dari ujung proksimal testis dan membentuk huruf U, lebar caput semakin pipih dan mengecil menjadi bagian yang lurus yang memanjang yaitu bagian corpus. Corpus epididymis diteruskan menjadi bagian cauda yang menggantung di bagian distal testis. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa fungsi epididymis yaitu Transport, yaitu spermatozoa diangkut dari rele testes ke ductus effernts oleh tekanan cairan didalam testes. Konsentrasi, yaitu dari suspense sperma encer yang berasal dari testes dengan konsentrasi 25.000 – 350.000 sel/mm3, air direabsorbsi kedalam sel-sel epitel selama perjalanannya melalui epididymis caput dan ketika mencapai cauda konsentrasi suspense sperma menjadi 4.000.000 sel. Maturasi yaitu sperma menjadi matang dalam epididymis dan sisa sitoplasma berpindah dari pangkal kepala ke ujung bawah bagian tengah sperma. Penyimpanan yaitu menyimpan sperma, tepatnya di cauda epididymis. Partodihardjo (1980) berpendapat bahwa Duktus epididymis sejak dibagian kepala telah berkelok-kelok rapat sekali sehingga konsistensi epididymis terasa kenyal.

1.1.3.  Vas deferent
Vas deferens merupakan organ reproduksi yang menghubungkan epididymis dengan uretra, sehingga sel sperma yang sudah matang dapat diteruskan ke uretra. Tekstur vas deferens terasa padat, hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et al., (1991) yang menyatakan bahwa Vas deferens merupakan sambungan langsung dari bagian ekor epididymis. Saluran ini lewat secara pararel menuju testis masuk ke spermatic cord dibagian tengah dan mesorchium dan melalui lubang inguinal terus ke lipatan genital peritoneum. Dinding vas deferent tebal dan berotot dengan lubang kecil sehingga terasa padat dan dapat diraba (lewat kulit) dibagian leher skrotum dan dapat diikat atau dipotong untuk membuat pejantan vasektomi. Ditambahkan oleh Toelihere  (1981) tang menyatakan bahwa Vas deferens merupakan saluran yang menghubungkan cauda epididymis dengan uretra.

1.1.4.  Uretra

Uretra merupakan organ reproduksi, yang berfungsi untuk jalannya semen menuju penis, dan sebagai jalannya urine, hal ini sesuai dengan pendapat wodzicka et al., (1991), yang menyatakan bahwa ureter berfungsi sekaligus sebagai saluran reproduksi dan saluran air kencing , dan lumennya dilapisi oleh sel epitel peralihan. Ditambahkan oleh Toelihere (1981), yang menyatakan bahwa uretra merupakan saluran ekskretori bersama untuk urin dan semen. Uretra membentang dari daerah pelvis ke penis dan berakhir pada  ujung glans sebagai orificum uretra eksternal. Uretra dapat dibedakan menjadi tiga bagian yaitu, bagian pelvis, bulbus uretra, dan penis.

1.1.5.  Penis

Penis merupakan organ kopulasi, yang berfungsi untuk menyemprotkan semen dan urine, hal ini sesuai dengan pendapat Partodihardjo (1980) yang menyatakan bahwa penis mempunyai 2 fungsi yaitu menyemprotkan semen kedalam alat reproduksi betina, untuk lewatnya urin. Ditambahkan oleh Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa penis merupakan organ kopulatoris. Penis terdiri dari tiga bagian, yakni bagian akar ( crush penis), bagian badan ( corpus penis), dan  bagian kepala (gland penis).

1.2.  Perbedaan AOR ternak jantan pada Sapi, Kambing, Babi
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh perbedaan bentuk glan penis antara sapi, babi dan domba. Pada sapi berbentuk bulat memanjang, pada domba terdapat processus urethralis yang berfungsi untuk mendeposisikan semen tepat pada serviks, sedangkan pada babi glan penisnya berbentuk matabor. Bentuk matabor menyesuaikan bentuk serviks babi betina. Secara mikroskopik testis kambing dan domba berbentuk oval, memanjang, berkonsistensi kenyal dan terbungkus oleh kapsula yang berwarna putih mengkilap (tunica dartos) (noviana et all, 2007). Pada sapi, penis berbentuk bulat panjang dan bertipe fibro elastis artinya selalu dalam keadaan agak kaku dan kenyal meskipun dalam keadaan non-aktif atau non-erect. Tipe fibro elastis didapatkan pada babi, kerbau, sapi, kambing dan domba (Partodihardjo, 1980). Testis dibungkus oleh skrotum. Pada sapi dan domba, skrotum terlihat menggantung diantara paha belakang, tapi pada babi skrotumnya terletak di belakang paha dan dibawah anus. Skrotum domba relatif besar dan bulat panjang dengan leher terlihat jelas (Wodzicka et al., 1991).

1.3.Anatomi Organ Reproduksi Ternak Betina
1.3.1.   Ovarium
            Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa ovari pada ternak yang diamati yaitu sapi, domba dan babi ovarinya di bagi atas 2 bagian utama. Ovarium berbentuk oval, pada sapi berbentuk kacang. Fungsi dari ovarium adalah menghasilkan telur. Hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et all., (1991) yang menyatakan bahwa ovari pada domba betina berbentuk oval dengan panjang kira-kira 1,5 cm. Ovari terdiri dari 2 bagian utama yaitu zona vaskular (medulla) dan zona parenkima. Partodihardjo (1980) Ovarium atau gonad merupakan bagian alat kelamin yang utama, ovarium menghasilkan telur, oleh karena itu dalam bahasa Indonesia seringkali disebut induk telur. Ovarium sapi pada umumnya berbentuk oval besarnya kira-kira sebesar biji kacang tanah sampai sebesar buah pala. Diameternya 0,75 cm sampai 5 cm. Ovarium kanan umumnya lebih besar dari ovarium kiri yang disebabkan karena fisiologik ovarium kanan lebih aktif daripada yang kiri.
1.3.2.   Tuba falopii
            Berdasarkan hasil praktikum dapat diketahui bahwa tuba falopii atau oviduct tersebut berbentuk tabung yang berkelok-kelok apabila diluruskan panjangnya bisa mencapai lebih kurrang 15 cm, fungsi dari tuba falopii tersebut adalah tempat terjadinya pembuahan tempat bertemunya spermaozoa dan sel telur hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et all., (1991) Tuba falopii atau oviduct ini berkelok-kelok sehingga kelihatannya lebih pendek dari panjang sebenarnya (kira-kira 15 cm). Oviduct terbagi menjadi 3 bagian infundubulum yang merupakan perluasan dari ujung ovarium , ampulla yang merupakan bagian tengan dari oviduct tempat terjadi pembuahan, isthmus yang merupakan bagian terakhir dari oviduct yang terbuka langsung ke bagian ujung runcing dari uterus. Partodihardjo (1980) menambahkan Saluran ini ada sepasang merupakan saluran yang menghubungkan ovarium dan uterus. Bentuknya bulat, kecil, panjang dan berkelok-kelok. Ukuran panjang dan kelok-keloknya berbeda setiap hewan. Fungsi oviduct adalah menerima telur yang diovulasikan oleh ovarium, menerima spermatozoa dari uterus, mempertemukan ovum dan spermatozoa, dan menyalurkan ovum yang telah dibuahi ke dalam uterus.
1.3.3.   Uterus
            Berdsarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa uterus pada ternak sapi, domba dan babi berbentuk tanduk, pada sapi dan domba bentuknya lebih pendek dibandingkan dengan babi. Uterus dibagi atas badan dan kornua, hal ini sesuai dengan pendapat Wodzicka et all., (1991) uterus terdiri atas bagian badan yang pendek (3-4 cm) dan dua kornua (tanduk) yang menggulung dengan panjang kira-kira 10 cm. Kedua kornua digabungkan beberapa sentimeter oleh suatu ligamentum sehingga bagian badan kelihatannya agak lebih panjang. Partodihardjo (1980) Uterus pada hewan kebanyakan terdiri atas sebuah korpus uteri dan 2 buah kornua uteri. Kornua umumnya berbentuk panjang lancip, hanya pada jenis kera dan manusia berbentuk pendek sekali atau beberapa pendapat mengatakan kornua pada bangsa primata tidak ada.
1.3.4.   Serviks
Berdsarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa serviks memiliki dinding yang sangat tebal teretak diujung uterus dan diujung vagina, pada serviks terdapat cairan yang berfungsi membantu jalannya spermatozoa. Fungsi dari serviks adalah menutup lumen uterus dari gangguan mikrobia, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Partodihardjo, (1980) yang menyatakan bahwa serviks adalah urat daging sphincter yang terletak diantara uterus dan vagina jadi serviks dapat dianggap pintu masuk ke dalam uterus, karena dapat terbuka dan tertutup dan tergantung pada fase siklus birahi hewan. Fungsi serviks adalah terutama menutup lumen uterus sehingga tak memberi kemungkinan untuk masuknya jasad mikroskopik maupun mikroskopik ke dalam uterus. Serviks mempunyai cairan serviks yang berfungsi memberi jalan dan arah bagi spermatozoa yang disemprotkan oleh penis dalam vagina. Spermatozoa akan berenang mengikuti asal arah cairan. Pada babi ujung penis sewaktu kopulasi menerobos masuk ke dalam lumen serviks karena vagina babi biasanya pendek  15 cm. Pada sapi serviks itu demikian meluasnya sehingga segera setelah fetus meninggalkan uterus sepintas lalu kita tidak dapat mengenal vagina, serviks atau uterus. Saliasbury (1985) Serviks merupakan bagian dari alat reproduksi yang berdinding tebal dengan panjang 5-10 cm dari tempat sambungan dengan uterus ke arah belakang yang berkesinambungan dengan vagina yang berdinding tipis.
1.3.5.   Vagina
            Berdsarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat diktahui bahwa vagina berada didalam pelvis, pada ternak betina normal akan terjadi perubahan pada saat birahi hal ini sesuai degan pendapat Wodzicka et all., (1991) vagina terletak di dalam pelvis Partodihardjo, (1980) Hewan betina yang nomal dan tidak bunting , epitel mukosa vaginanya secara periodik berubah. Perubahan ini berada di bawah pengaruh hormon yang disekresikan oleh ovarium.
1.3.6.   Vulva
            Berdsarkan hasil pengamatan dapat diketahui bahwa vulva berada pada bagian paling luar organ reproduksi ternak betina pada vulva terdapat bulu-bulu halus, vulva berfungsi sebagai tempat tempat masuknya penis ternak jantan, hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Wodzicka et all., (1991) labia vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran reproduksi. Pada domba commisure dorsal nya agak membulat, sedangkan dari bagian ventral labia diteruskan sebagai tonjolan di tengah-tengah. Saliasbury, (1985) vulva merupakan alat kelamin betina bagian luar. Lubang luar alat reproduksi sapi betina berada tepat di bawah anus.

1.4. Perbedaan AOR ternak betina pada Sapi, Kambing, Babi
            Uterus pada sapi,babi dan domba perbedaannya terletak pada ukurannya. Ukuran  uterus pada babi lebih panjang diabndingkan dengan sapi dan domba, sehingga babi dapat beranak lebih banyak dalam sekali melahirkan. Menurut Hafez (1972) Sapi dan domba memiliki tipe uterus bipartitus. dangkal tubuh rahim pada sapi dan domba tampak lebih besar daripada sebenarnya bisa karena bagian-bagian ekor dari tanduk terikat bersama oleh ligamentum intercounal. Pada ruminansia, tanduk uterus secara khusus berkembang dengan baik karena ini adalah di mana janin berada. Bentuk serviks pada sapi dan domba yaitu berbentuk spiral. Pada sapi, spiral ini berbentuk seperti cincin dan terdiri dari empat buah. Sedangkan pada Babi bentuknya seperti pembuka botol (setengah spiral). Menurut Hafez (1972) struktur serviks berbeda secara rinci antara mamalia pertanian, dinding ditandai dengan berbagai keunggulan. Pada ruminansia ini adalah dalam bentuk pegunungan melintang atau spiral saling dikenal sebagai cincin melingkar, yang berkembang untuk berbagai degress pada spesies yang berbeda. Mereka terutama menonjol dalam sapi (4 cincin) dan domba, di mana mereka masuk ke dalam setiap dekat otherto serviks aman. Pada babi Betina, cincin ini berada di pengaturan pembuka botol yang disesuaikan dengan memutar spiral ujung penis babi hutan itu. Ovarium pada sapi, domba dan babi berbeda darri segi bentuknya. Bentuk ovarium sapi dan domba berbentuk seperti kacang almond, sedangkan pada babi seperti anggur. Menurut Hafez (1972) ovarium, tidak seperti testis, tetap dalam rongga perut. Ini performans kedua eksokrin dan sebuah fungsi endokrin. Bentuk dan ukuran ovarium spesies withnthe kedua dan tahap siklus estrus. Pada sapi dan domba ovarium ini berbentuk almond. Pada babi ovarium menyerupai sekelompok anggur, folikel nyata menonjol dan corpora lutea.

DAFTAR PUSTAKA

Toilehere, M. R. 1981.Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung
Saliasbury, G.M. 1985. Fisiologi Reproduksi dan Inseminasi Buatan pada Sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Wodzicka, M, I.K. Sutama, I. G. Putu, T.G. Chaniago. 1991. Reproduksi, Tingkah laku dan Produksi Ternak Di Indonesia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Partodihardjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Mutiara, jakarta

E.S.E.Hafez. 1972. Reproduction in Farm Animal (second edition). Washington State University Pullman, Washington.

Laporan RUNR


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
            Perkembangan ayam broiler di Indonesia dimulai pada pertengahan dasawarsa 1970-an dan booming pada awal 1980-an. Laju perkembangan usaha ayam broiler sejalan dengan pertumbuhan populasi penduduk, pergeseran gaya hidup, tingkat pendapatan, perkembangan situasi ekonomi dan politik, serta kondisi keamanan. Ayam broiler memiliki pertumbuhan yang cepat, namun hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh genetiknya saja. Tetapi juga dari zat gizi yang terkandung didalam ransum serta cara pemberiannya. Pemberian ransum yang salah dapat menyebabkan hasil produksi dari ayam broiler ini kurang maksimal. Manajemen pemberian ransum perlu dilakukan untuk mendukung produksi karena terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi ayam. Pemberian nutrisi harus mempertimbangkan tinggi atau rendahnya kecernaan, karena ini juga berpengaruh terhadap penyerapan didalam tubuh ayam.

2.2.      Permasalahan
            Nutrisi ransum bagi ayam broiler sangat penting untuk memperoleh produktivitas yang tinggi. Kualitas bahan pakan sangat mempengaruhi pemanfaatan nutrisi dalam tubuh unggas, seperti pemanfaatan kalsium, serat kasar, lemak kasar, dan protein kasar. Oleh karena itu dibutuhkan susunan bahan pakan dengan kualitas baik untuk meningkatkan nilai kecernaan bahan pakan dalam tubuh ternak

2.3.      Tujuan dan Manfaat

Tujuan dari praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia ini adalah agar mahasiswa mengetahui nilai kecernaan ayam broiler yang diberi ransum kontrol. Manfaat yang didapatkan dari praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia ini adalah mahasiswa dapat menghitung dan mengetahui nilai kecernaan ayam broiler yang diberi ransum Kontrol

BAB II  

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.      Ayam Broiler

            Ayam Broiler adalah jenis ayam yang efisien dalam menghasilkan daging atau dapat dikatakan sebagai ayam yang berpotensi besar untuk tumbuh secara cepat dan efisien dalam mengubah pakan menjadi daging. Ayam tersebut dihasilkan melalui perkawinan silang, seleksi, dan rekayasa genetik yang dilakukan oleh pembibitnya (Santoso dan Sudaryani, 2009). Apabila dibandingkan ayam lain, ayam broiler mempunyai beberapa kelebihan antara lain dapat berproduksi dengan cepat, relatif menghemat modal, dan konversi makannya lebih baik (Siregar dan Sabrani, 1980).

2.2.      Ransum

            Ransum adalah campuran berbagai bahan pakan dengan komposisi tertentu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan ternak (hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh, dan produksi) selama 24 jam dan pemberiannya dapat dilakukan beberapa kali (Suprijatna et al., 2005). Pemilihan bahan baku yang akan digunakan dalam ransum adalah bahan pakan tidak bersaing dengan bahan makanan manusia, bahan baku pakan harus tersedia secara terus – menerus dalam jumlah yang memadai, harga bahan baku murah, kualitas gizi bahan baku pakan baik, dan mempunyai kandungan asam amino, vitamin, mineral, dan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi unggas (Ichwan, 2003).
Ransum ayam broiler terbagi menjadi dua jenis, yaitu periode starter dan periode finisher (Murtidjo, 1991). Kebutuhan nutrisi ayam broiler periode finisher adalah PK 20%, EM 2900 – 3200, LK 2,5%, SK 4,5%, Ca 0,9%, dan P 0,35% (NRC, 1994).
2.3.      Kecernaan

Kecernaan ransum sangat penting untuk diketahui karena dapat dipakai untuk menentukan nilai atau mutu suatu bahan pakan (Scott et al., 1982). Kecernaan ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak, macam bahan pakan, jumlah pakan yang diperlukan, cara penyediaan dan kadar nutrisi (Lubis, 1992).
            Pengukuran kecernaan adalah suatu usaha untuk menentukan jumlah zat ransum diserap dalam saluran pencernaan. Jumlah yang tertinggal dalam tubuh dapat dihitung dari selisih zat pakan yang terkandung dalam ransum yang dikonsumsi dengan zat pakan dalam ekskreta. Pengukuran kecernaan dapat dilakukan dengan metode in vivo yang melibatkan ternak secara langsung. Pengukuran secara in vivo terdiri dari 2 periode yaitu periode pendahuluan dan periode koleksi. Periode pendahuluan digunakan untuk membiasakan ternak dengan ransum perlakuan dan kondisi lingkungan yang baru serta menghilangkan sisa ransum waktu sebelumnya. Periode koleksi adalah periode pengumpulan semua ekskreta (Tillman et al., 1991). Nilai kecernaan normal ayam broiler untuk LK adalah 75 – 80%, PK adalah 70 – 80%, dan SK adalah 70 – 80% (Wahyu, 1985; Piliang dan Soebagio, 1990).

2.4.      Pertambahan Bobot Badan (PBB)

            Ayam Broiler adalah ayam jantan atau betina muda dengan bobot hidup antara 1,3-1,6 kg dan PBB per minggu antara 0,44 – 0,45kg pada umur 7-8 minggu dan mempunyai pertumbuhan yang cepat serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak (Raysaf,2004). Pertumbuhan bobot badan ayam dipengaruhi oleh genetis dan pakan. Pakan yang berkualitas baik akan memenuhi kebutuhan nutrisi ayam sehingga pertumbuahan bobot badan lebih cepat dan tinggi.  Tingkat pertumbuhan ayam akan berbeda pada setiap minggunya, bergantung pada strain ayam, jenis kelamin, hormone dan faktor lingkungan yang mendukung (pakan dan manajemen) (Fadilah, 2005).
Pertumbuhan hewan ditentukan oleh cakupan makanannya, jika konsumsi makannya tinggi maka pertumbuhannya juga cepat (Tillman et al., 1991). Ayam broiler periode finisher mempunyai konsumsi rata-rata 100 gr/hari (Mulyono dan Raharjo, 2008).
 
                                                                            BAB III   

                                                                      METODOLOGI

Praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia dengan materi pemberian ekstrak daun katuk terhadap ayam broiler dilaksanakan hari selasa tanggal 15 Mei 2012 sampai hari jumat, tanggal 18 Mei 2012. Di Kandang Digesti Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro Semarang.

3.1.      Materi
Materi yang digunakan dalam praktikum pemberian ekstrak daun katuk terhadap ayam broiler adalah 2 ekor ayam broiler, pakan BR 1, tepung daun katuk, vitachick, tetrahlor, air minum, indikator Fe2O3, gula merah , dan larutan HCl. Alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu tempat pakan digunakan untuk meletakan pakan ayam, tempat minum digunakan untuk meletakan air minum ayam , kandang digunakan tempat istirahat ayam, loyang digunakan untuk tempat meletakan ekskreta ayam yang akan dijemur, timbangan analitik digunakan untuk menimbang pakan, plastik digunakan untuk melapisi kardus tempat penampungan ekskreta, dan kardus digunakan untuk tempat penampungan ekskreta.

3.2.      Metode
.           Metode yang digunakan pada praktikum pemberian ekstrak daun katuk terhadap ayam broiler adalah pada hari pertama mempersiapkan kandang ayam, membersihkan area kandang, membuat loyang untuk ekskreta, menghaluskan pakan untuk ayam, mengambil ayam di rumah potong ayam kemudian menempatkan ayam pada masing-masing kandang, memberikan air gula ke ayam agar tidak stress, menimbang pakan untuk hari pertama dan hari kedua, mengganti air minum, dan menutup tirai. Pada hari kedua memberi pakan, mengganti air minum dengan tambahan vitachick, mengganti alas ekskreta yang masih menggunakan kardus pada pagi hari, membuka tirai, mengecek pakan, dan menutup tirai pada sore hari. Pada hari ketiga mengganti air minum dengan tambahan vitachick, mengganti pakan, membuat loyang untuk menampung ekskreta, membuka tirai, menimbang pakan untuk hari jumat, memberi pakan, mengecek air minum, dan menutup tirai. Pada hari keempat menimbang ayam untuk dimasukan ke kendang individu, memasukan ayam ke kandang individu, memberi air minum dengan tambahan vita chick, memberi pakan, membuka tirai, meletakan loyang penampung ekskreta dan mengecek kondisi ayam. Pada hari kelima memberi air minum dengan tambahan vitachick, mengganti loyang ekskreta T0U4, menimbang ekskreta T0U4, menimbang  ayam untuk sampel perlakuan T0U4, mengambil ekskreta yang dijemur, menyemprot ekskreta dengan HCl untuk menurunkan penguapan nitrogen, membuka tirai, memberi pakan, mencampur pakan, dan menutup tirai.pada hari keenam mengganti pakan, mengganti air minum, mengganti loyang, menjemur loyang hari kedua penampungan ekskreta, membuka tirai, memindahkan ayam T0U3 ke kandang koloni, memberi pakan untuk ayam sampel T0U4, mencampur pakan, mengecek air minum, dan menutup tirai. Pada hari ketujuh membuka tirai, menjemur ekskreta, mencuci tempat air minum, dan membersihkan ekskreta yang tercecer. Pada hari kedelapan, kesembilan, dan kesepuluh hanya melakukan penjemuran ekskreta. Pada hari kesebelas melakukan menimbang ekskreta, menumbuk ekskreta.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Ayam Broiler

            Ayam broiler yang dipelihara adalah ayam memiliki umur 8 minggu dengan bobot TO U3 adalah 1746 gram dan untuk TO U4 adalah 1748 gram. Ayam broiler dengan umur 8 minggu merupakan ayam finisher dan bobotnya sudah memenuhi standar. Raysaf (2004) menyebutkan bahwa ayam Broiler adalah ayam jantan atau betina muda dengan bobot hidup antara 1,3-1,6 kg yang dipasarkan pada umur 5-6 minggu dan mempunyai pertumbuhan yang cepat serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang baik dan banyak. Ayam yang digunakan sebagai sampel memiliki pertumbuhan yang cukup efisien dengan penambahan bobot badan ayam broiler untuk TO U3 adalah 66 gram/hari dan untuk TO U4 adalah  88 gram/hari. Pertumbuhan ini dinilai baik, hal ini dipengaruhi oleh gen ayam broiler yang merupakan ayam dengan produksi daging sangat tinggi dan pakan yang sangat efisien dibanding jenis ayam yang lain. Pramu et al. (1981) menyatakan bahwa ayam broiler adalah jenis ayam yang efisien dalam menghasilkan daging atau dapat dikatakan sebagai ayam yang berpotensi besar untuk tumbuh secara cepat dan efisien dalam mengubah pakan menjadi daging. Siregar dan Sabrani (1980) menambahkan, apabila dibandingkan ayam lain, ayam broiler mempunyai beberapa kelebihan antara lain dapat berproduksi dengan cepat, relatif menghemat modal, dan konversi makannya lebih baik.
4.2.      Ransum

Berdasarkan hasil Praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia diperoleh hasil bahwa kandungan nutrisi ayam broiler dengan menggunakan ransum kontrol periode finisher, yaitu BK 87,94%, PK 19,80%, abu 5,608%, LK 4,943%, dan SK 10,101%. Murtidjo (1991) menyatakan bahwa Ransum ayam broiler terbagi menjadi dua jenis, yaitu periode starter dan periode finisher. Hal ini didukung oleh NRC (1994) bahwa Kebutuhan nutrisi ayam broiler periode finisher sebaiknya adalah mempunyai kandungan PK 18 – 20%, EM 2900 – 3200, LK 2,5%, SK 4,5%, Ca 0,9%, dan P 0,35%.
            Ransum kontrol yang diberikan ayam broiler periode finisher dapat dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan ternak seperti kebutuhan akan hidup pokok, panas tubuh, dan produksi daging. Suprijatna et al. (2005) menyatakan bahwa Ransum adalah campuran berbagai bahan pakan dengan komposisi tertentu yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan ternak (hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh, dan produksi) selama 24 jam dan pemberiannya dapat dilakukan beberapa kali. Ichwan (2003) juga menyatakan bahwa Pemilihan bahan baku yang akan digunakan dalam ransum salah satunya adalah mempunyai kandungan asam amino, vitamin, mineral, dan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi unggas.

4.3.      Kecernaan

            Berdasarkan hasil Praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia diperoleh hasil bahwa ayam broiler TO U3 mempunyai nilai kecernaan BK 92,49%, kecernaan BO 91,49%, kecernaan LK 95,4%,  kecernaan SK 77,63%, dan kecernaan PK 95,98%. Ayam broiler TO U4 mempunyai nilai kecernaan BK 78,35%, kecernaan BO 78,92%, kecernaan LK 89,98%, kecernaan SK 45,45%, dan kecernaan PK 90,94%. Nilai ini diatas standar nilai kecernaan normal ayam broiler, sehingga dapat mempengaruhi penampilan ayam broiler (bobot badan dan pertambahan bobot badan ayam broiler). Perbedaan nilai kecernaan ayam broiler TO U3 dan TO U4 dapat dipengaruhi karena kondisi dan daya cerna organ – organ pencernaan dari setiap ayam berbeda – beda. Wahyu (1985); Piliang dan Soebagio (1990) menyatakan bahwa Nilai kecernaan normal ayam broiler untuk LK adalah 75 – 80%, PK adalah 70 – 80%, dan SK adalah 70 – 80%. Lubis (1992) juga menyatakan bahwa Kecernaan ransum dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jenis ternak, macam bahan pakan, jumlah pakan yang diperlukan, cara penyediaan dan kadar nutrisi.

4.3.      Pertambahan Bobot Badan (PBB)

            Berdasarkan hasil Praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia diperoleh hasil bahwa bobot badan awal ayam broiler untuk TO U3 adalah 1680 gram dan untuk TO U4 adalah 1660 gram. Bobot badan akhir ayam broiler untuk TO U3 adalah 1746 gram dan untuk TO U4 adalah 1748 gram, sehingga dapat diperoleh Pertambahan Bobot Badan (PBB) ayam broiler untuk TO U3 adalah 66 gram/hari dan untuk TO U4 adalah  88 gram/hari. Rata – rata konsumsi ayam broiler TO U3 dan TO U4 adalah 82,8 gram/hari. Bobot badan dan Pertambahan Bobot Badan (PBB) ayam broiler periode finisher tersebut berada di atas standar. Hal ini dapat disebabkan karena pakan yang dikonsumsi digunakan secara optimal untuk pertambahan bobot badan ayam broiler. Rasyaf (2004) mengungkapkan bahwa Ayam Broiler adalah ayam jantan atau betina muda dengan bobot hidup antara 1,3-1,6 kg dan PBB per minggu antara 0,44 – 0,45kg pada umur 7-8 minggu. Mulyono dan Raharjo (2008) juga menambahkan bahwa Ayam broiler periode finisher mempunyai konsumsi rata-rata 100 gr/hari. Hal ini juga dinyatakan oleh Fadilah (2005) bahwa Pertumbuhan bobot badan ayam dipengaruhi oleh genetis dan pakan. Pakan yang berkualitas baik akan memenuhi kebutuhan nutrisi ayam sehingga pertumbuahan bobot badan lebih cepat dan tinggi.  Tingkat pertumbuhan ayam akan berbeda pada setiap minggunya, bergantung pada strain ayam, jenis kelamin, hormone dan faktor lingkungan yang mendukung (pakan dan manajemen).

BAB V

KESIMPULAN

            Berdasarkan hasil praktikum Ransum Unggas dan Non Ruminansia dapat disimpulkan bahwa ayam broiler yang diberi pakan kontrol mempunyai nilai kecernaan yang tinggi, sehingga memberikan bobot badan dan pertambahan bobot badan yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Fadilah, R. 2004. Panduan Mengelola Peternakan Ayam Broiler Komersial. Agromedia Pustaka, Depok.
Lubis, D. A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT Pembangunan, Jakarta.
Mulyono, B. dan  Raharjdo, P. 2008. Ayam Jawa Super. Agromedia Pustaka, Jakarta.
Murtidjo B, A. 1992. Mengelola Ayam Buras. Kanisius, Yogyakarta.
National Research Council. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. 8th Ed. National Academy Press, Washington D.C.
Piliang, W. G. Djojosoebagio, S. 1990. Metabolisme Lemak, Protein dan Serat Kasar. Fisiologi Nutrisi I. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
Rasyaf, M. 2004. Beternak Ayam Pedaging. Cetakan ke-24. Penebar Swadaya, Jakarta.
Scott, M.L.,M. C. Nesheim, dan R. J. Young 1982. Nutrition of The Chicken. 3rd ed. N. Y. : M. L. Ithaca, Scoot.
Siregar, A. P. Dan M. Sabrani. 1980. Tehnik Modern Beternak Ayam. Penerbit PT. Yasaguna, Jakarta.
Suprijatna, E. 2005. Ayam Buras Krosing Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tillman, A. D., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekojo. 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Wahju, J. 1985. llmu Nutrisi Unggas. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.